Berontak - Tulisan el
BERONTAK
Dwi Maurelria Putri.
KRINGGG! Bunyi alarm milik gadis berambut panjang itu berbunyi, menandakan jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Hari ini adalah hari Minggu, Amara mematikan alarm tersebut dan bergegas menyiapkan dirinya untuk hari ini. Ayah Amara adalah seorang yang sangat proktektif, di tambah Amara adalah anak terakhir dan seorang perempuan, "Ayah, aku bosan sekali hari ini" rengeknya sambil berharap ia akan diizinkan main bersama teman-temannya. Namun hal tersebut hanya akan selalu menjadi harapan saja, Ayah mana mungkin memperbolehkan Amara untuk keluar rumah tanpa pengawasannya. "Amara, kamu ingin Ayah temani bermain?" tawarnya kepada putri yang paling ia sayang itu. "Ah! Amara ingin bermain bersama teman bukan Ayah, Amara juga butuh bersosialisasi dengan teman - teman Amara" jawabnya dengan nada ketus. "Kalau begitu Ayah temani kamu main sama teman mu saja" Amara tampak jengkel sekali dengan jawaban sang Ayah. "Huh! Terserah Ayah saja, Amara ingin ke kamar". Ia mengunci pintu kamarnya dengan perasaan yang masih jengkel, yang benar saja ia dari kecil sama sekali tidak boleh bermain keluar jika bukan karena hal yang penting itupun harus di bawah pengawasan sang Ayahnya. bahkan sampai ia menginjak umur ke 18. Amara sudah sangat muak sekali dengan perlakuan Ayahnya, bahkan di kamarnya di beri CCTV untuk memantau semua aktivitas nya.
Namun sejak tadi pagi sampai jam sudah mununjukan pukul 10 malam, ia tak keluar - keluar dari kamarnya, sang Ayahpun membobol pintu kamar. "BRAKKK!" pintu berhasil di bobol. Namun hal yang mengejutkan terjadi, Amara tidak ada dikamarnya. Ayah langsung memanggil bawahannya untuk membantu mencari anaknya itu. "Bun, Amara kangen...cape rasanya di sini" ucapnya yang sedari tadi ternyata keluar untuk menjenguk makam sang bunda. "Bunda di sana sudah bahagia ya? Amara jadi ingin ikut bunda saja kalau dunia Amara selalu di batasi seperti ini" ucap Amara sambil menaruh kepalanya di batu nisan bertuliskan nama Bundanya yang ia sama sekali tidak ingat wajahnya karena Bunda meninggal saat Amara bayi. "LEOANAMARA GAVINDRA!" Terdengar suara lelaki yang tak asing datang dari belakang menyebut nama lengkapnya, yang tak lain dan tak bukan pasti sang ayah. Ayah langsung memghampiri putrinya dan mencegkram kuat lengan sang anak dengan tatapan tajam dan merah "Keterlaluan kamu! Bagaimana jika ada orang asing yang jahat ke kamu?Ayo segera pulang."Amara hanya menangis dan pasrah saja, karena apa boleh buat?Amara kembali ke kamar dan tertidur, besok adalah hari pertama ia sekolah di sekolah umum karena sedari kecil ia homeschooling.
Alarm Amara kembali berbunyi "KRINGGG-KRINGGGGG" Amara sontak mematikannya. Ia bergegas bersiap untuk memulai hari pertamanya sekolah dan bertemu banyak orang, Ayah sebenarnya khawatir namun ia jelas sudah menyiapkan orang untuk menjaga putri nya saat di sekolah. Amara memasuki ruangan kelas, ia duduk di bangku kosong sebelah perempuan yang sepertinya lumayan bawel. "Hi! Kenalin aku Emily, kamu? " Tanya perempuan itu, "Oh, hai Emily, Aku Amara" Jawabnya dengan mata yang ikut tersenyum. Emily adalah anak yang sangat nekat dan ingin mencoba segala hal. Di tambah Amara anak yang penasaran dengan dunia luar, mereka akan menjadi teman yang cocok.
Hari ini sangat melelahkan untuk Amara karena pertama kalinya ia bertemu dengan banyak orang, namun Amara senang karena akhirnya ia memiliki teman yang se frekuensi dengan dirinya. Walau Ayah pasti membawa orang untuk mengawasi dan menjaga nya di sekolah yang membuat Amara sangat tidak nyaman.
Esoknya Amara ada tugas kerja kelompok, di rumah Emily namun saat ia izin ke Ayah, Ayah meminta syaart jika ingin di izinkan Ayah harus ikut ke rumah Emily sampai kerja kelompok nya selesai. Amara paling benci dengan sikap Ayahnya yang ini, kali ini ia anggap sudah kelewatan karena Ayahnya sama sekali tidak pernah memberikan privasi kepada sang anak dan juga kepercayaan. Akhirnya dengan penuh emosi yang meluap, Amara keluar dari rumah dan mendubrak pintu sangat kencang. Ia pergi ke tempat Emily, saat sampai di rumahnya Amara cerita semua kepada Emily.
"Wah Ayah mu gitu banget...kuat ya ra, eh tapi aku ga pernah lihat Ayah kamu, jadi kepo nih.. Boleh lihat ga ra? " Tanya nya dengan rasa penuh pernasaran "iya boleh" Amara memperlihatkan foto Ayahnya. "Loh... Ini bukanya Om Leon ya? Bener gasih, nama Ayah kamu itu ra? " Amara kaget karena bagaimana Emily bisa tahu nama Ayahnya itu "iya...tau darimana ly?".
" Ra.... Kalau aku bilang dia bukan Ayah kamu selama ini gimana? " , perkataan itu membuat Amara bingung dan juga kaget."Hah?maksudnya? " Emily sontak menjawab "Ah Tidak aku hanya bercanda, hahahaha abisnya ga mirip sih ra. Aku tahu nama Ayah kamu kan kamu sendiri yang cerita" Jawabnya dengan tertawa. Namun perkataan Emily menjadi pikiran untuk Amara, karena memang benar bahkan Ayah tidak mempunyai foto Bunda dan Amara saat kecil atau foto pernikahan mereka.
Namun jika benar bukan om Leon Ayah Amara, lalu siapa? Kenapa Amara ada di tangan om Leon ? Mungkin ini ada kaitannya dengan alasan Amara yang jarang di perbolehkan keluar.Amara meminta tolong kepada Emily untuk membantu mencari kebenarannya, karena sungguh ia juga jadi kepikiran "ly, aku boleh minta tolong? " Amara menjelaskan semuanya kepada Emily, Emily yang suka tantangan pun meng iya kan hal tersebut. Pertama tama Emily menyuruh kakaknya untuk mencari data mengenai Ayah Amara. Tak sampai 3 jam semua data sudah terkumpul, Dirga adalah kakak Emily "ly ini data orang yang kamu minta, emangnya buat apa sih? Bukanya dia orang yang pernah bertengkar dengan Ayah kita? Mau kau apakan? " Tanya Dirga sambil menunjukan data data tersebut. "Loh? Kakak tau dari mana? " "Ayah pernah cerita ke Kakak sih, orang ini kita tidak tahu keberadaan nya dimana susah di lacak, sepertinya memang bukan orang biasa. " Ujar Dirga.
Leon, Ayah Amara berhasil melacak lokasi Amara. Namun kau tau? Amara sedari tadi sudah di beri obat tidur oleh kedua kakak beradik itu dan di kunci di ruangan. Emily sebenarnya sudah tahu bahwa dia adalah anak dari musuh bebuyutannya yang membuat Ibu mereka meninggal. Kedua saudara ini belum puas membalaskan dendam mereka. Namun, Ayah Amara jelas bukan orang biasa biasa, ia orang penting dan memiliki banyak bawahan. Justru lebih kuat dari keluarga Emily, di situ mereka langsung di kepung dan saling berontak. Keluarga Emily kalah dan lari dari lokasi tersebut
Ayah Amara sangat mengkhawatirkan anaknya, di situ, ia langsung memeluk Amara dan mencoba untuk membangunkannya "Ra, bangun ra, ini Ayah" Amara membuka matanya dan sontak kaget, ia menangis dan berkata "Ayah? Aku bukan anakmu! " Leon yang mendengarnya jelas kaget, anak ini sudah di cuci otaknya dengan keluarga Emily. "Huh, nanti Ayah akan jelaskan di mobil, ayo ikut dulu" Amara pun menolak karena tidak percaya dengan Leon. "Amara... Ayah memang bukan Ayah kandung mu. Ayah dan ibu mu tidak pernah menikah ra, tapi Ayah menemukan kalian berdua saat kecelakaan dan kamu masih kecil, Ayah sangat ingat betul kamu menanggil ku dengan sebutan " Ayah " Itu yang membuat Ayah mau mengadopsi kamu karena ibu mu gabisa di selamat kan dan juga tidak ada orang yang mengenali ibumu. Namun setelah beberapa Tahun malah muncul keluarga Ibumu yang baru tahu kabar bahwa ibu sudah meninggal, dan mengira bahwa Ayah yang membuat itu semua. Ayah bisa kok mempertanggungjawabkan hal yang Ayah sebut tadi kalau kamu masih ga percaya" Ujar ayahnya. "Kenapa Ayah selalu mengurung Amara? Tanya nya sambil mencerna semua yang terjadi "Ayah gamau kejadian seperti ini lagi ra, ini hal yang paling ayah takutkan.. Keluarga Emily adalah keluarga yang Ayah maksud. Mereka juga bukan dari keluarga biasa saja, ayah takut mereka berbuat yang tidak tidak kepada kita karena masih mengira bahwa Ayah yang membuat ibumu meninggal" Jawab nya. "Pulang, ya ra?" Ajak Ayahnya. "Tapi Amara gamau di kurung lagi ya yah? Amara bisa menjaga diri asal Ayah cerita semua ke Amara" Mereka berpelukan dan pulang ke rumah.
Kini hubungan Amara dan Ayah semakin membaik dan Amara di beri kepercayaan penuh oleh sang Ayah karena Amara juga sudah mengetahui semuanya, ia berlatih bela diri juga.



Komentar
Posting Komentar